Menulis BAB I

Ilma Nafia (2219014)
Kitabah III-A 

الفصل الأول
مقدمة البحث 

أ- خلفية البحث 
الشخصية الدينية هي أحد جوانب الشخصية الإنسانية التي لا يمكن أن تقف بمفردها ، بمعنى أنها مرتبطة بجوانب شخصية يجب غرسها في الأطفال منذ الصغر ، لأن القدرة على التدين لا تتشكل من تلقاء نفسها. يتم الحصول على هذه القدرة بإرادة وتشجيع الآخرين. هذه الشخصية الدينية مطلوبة بشدة من قبل الطلاب في التعامل مع الأوقات المتغيرة والتدهور الأخلاقي كما هو الحال اليوم. في هذه الحالة ، يُتوقع من الطلاب أن يكونوا قادرين على التصرف بإجراءات جيدة وسيئة بناءً على الأحكام الدينية. 
ذكر ماجد وديان أن الشخصية هي شخصية أو طبيعة أو أشياء أساسية للغاية موجودة في الشخص.  حسب هداية الله ، الشخصية هي الجودة أو القوة العقلية أو الأخلاق أو الشخصية التي هي شخصية خاصة كسائق ومميز بين فرد وآخر.  كما ذكر درمياتي أن الشخصية هي طريقة في التفكير والتصرف والتصرف لها خصائص الشخص الذي يصبح عادة تظهر في حياة الناس.  ينص مركز المناهج في وزارة التربية الوطنية على أن الدين هو موقف وسلوك مطيع في تنفيذ تعاليم الدين الذي يلتزمون به ، والتسامح مع المصلين الآخرين ، والعيش في وئام مع أتباع الديانات الأخرى.  وبناءً على هذا التفسير ، يمكن استنتاج أن الشخصية الدينية هي الشخصية الخاصة للإنسان ، حيث تُميِّز بين فرد وآخر وتطيع تعاليم الدين الذي يعتنقه 
الطلاب هم الجيل القادم من الأمة ، لذلك من المتوقع أن يتمتعوا بطابع ديني قوي حتى يتمكنوا من التصرف بشكل جيد من خلال الالتزام بأحكام وشروط المبادئ التوجيهية في الدين. الشخصية الدينية هي شيء مهم جدًا في حياة الطلاب. ومع ذلك ، جنبًا إلى جنب مع تقدم العصر ، كان هناك تحول في قيم الشخصية الدينية بين الطلاب ، أصبح الموقف أو الفعل الذي كان يُنظر إليه في الأصل على أنه غير عادي ، أمرًا شائعًا الآن. ومن الأمثلة على ذلك ، أن تقدم العلوم والتكنولوجيا الذي يشهد تطورًا سريعًا يمكن أن يكون له تأثير سلبي على تطور الطلاب ، ونتيجة لهذا التطور هناك العديد من المواقع التي تحتوي على العنف ، ويمكن الوصول إلى النشاط الجنسي بسهولة عبر الإنترنت والبرامج التلفزيونية اليوم بعيدون عن التعليم ويميل الأطفال من الطلاب إلى اتباع الأساليب الثقافية الغربية دون الالتفات إلى تلك الثقافة وفقًا للأعراف السائدة في المجتمع. بوعي أم لا ، يمكن للثقافات الأجنبية أن تتلاشى شخصية الطلاب الإندونيسيين. الحالة الأخلاقية للأطفال في إندونيسيا مقلقة للغاية أيضًا ، حيث غالبًا ما يُرى أن الأطفال يستهلكون المخدرات ، وتحدث المعارك ، وأعمال العنف مثل ما يحدث الآن ، وبالتحديد حالات التنمر في المدرسة.
انخفض تعليم الشخصية الدينية في هذا الوقت في جودة المجتمع ، مثل حدوث العنف ، والمواد الإباحية ، والمشاجرات وغيرها. في مواجهة الأوقات المتغيرة والانحدار الأخلاقي بين الطلاب اليوم ، فإن الشخصية الدينية ضرورية للغاية لتطويرها في المؤسسات التعليمية. لن يتم تنفيذ عملية تكوين الشخصية الدينية إذا اقتصر اختصاصيو التوعية على إعطاء الأوامر للطلاب لتنفيذ التعاليم الدينية ، ولكن يجب أن يكون المعلم قادرًا على تقديم أمثلة حتى يمكن استخدامها كنماذج يحتذى بها للطلاب. وبهذه الطريقة يسهل على الطلاب اتباع السلوك الجيد للمعلم ، بحيث تتم عملية تكوين الشخصية الدينية بشكل أكثر فاعلية.
تكوين الشخصية الدينية للطلاب مسؤولية جميع الأطراف ، الآباء والمعلمين على حد سواء. للوالدين والمعلمين دور مهم في تشكيل شخصية الطلاب. يجب أن يكون الآباء والمعلمين قادرين على أن يكونوا مبادرين ومحفزين وأمثلة في تشكيل الشخصية الدينية. من ناحية أخرى ، يجب أن يبذل المعلمون أيضًا جهودًا خاصة أو طرقًا خاصة في محاولة لبناء شخصية طلابهم.

من الوصف أعلاه ، يهتم المؤلف بإجراء بحث من خلال التركيز على “تكوين الشخصية الدينية للطلاب من خلال غرس القيم الدينية في المدرسة المتوسطة الإسلامية بيكالونجان”. كان الغرض من هذه الدراسة هو إثبات ما إذا كان غرس القيم الدينية يمكن أن يشكل الشخصية الدينية لدى الطلاب.


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Karakter religius merupakan salah satu aspek kepribadian manusia yang tidak dapat berdiri sendiri, artinya terkait dengan aspek kepribadian yang harus ditanamkan pada anak-anak sejak dini, karena kemampuan untuk religius tidak terbentuk dengan sendirinya. Kemampuan ini diperoleh dengan kemauan dan dorongan dari orang lain. Karakter religius ini sangat dibutuhkan peserta didik dalam menghadapi perubahan zaman dan degradasi moral seperti saat ini. Dalam hal ini peserta didik diharapkan mampu berperilaku dengan ukuran baik dan buruk yang didasarkan pada ketentuan agama. 
Majid dan Dian menyatakan bahwa karakter adalah watak, sifat, atau hal-hal yang memang sangat mendasar yang ada pada diri seseorang. Menurut Hidayatullah, karakter adalah kualitas, kekuatan mental, moral atau budi pekerti yang merupakan kepribadian khusus sebagai pendorong serta pembeda antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Darmiyati juga menyatakan bahwa karakter adalah sebuah cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang memiliki ciri khas seorang yang menjadi kebiasaan yang ditampilkan dalam kehidupan masyarakat. Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional menyatakan bahwa religius adalah sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksana ibadah lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diambil kesimpulan karakter religius adalah kepribadian khusus seseorang sebagai pembeda antara individu yang satu dengan yang lain serta patuh melaksanakan ajaran agama yang dianutnya.
Peserta didik merupakan generasi penerus bangsa, sehingga diharapkan memiliki karakter religius yang kuat sehingga mampu berperilaku baik dengan berpatokan pada ketentuan dan ketetapan pedoman di dalam agama. Karakter religius merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan siswa. Namun seiring dengan kemajuan zaman, terjadi pergeseran nilai-nilai karakter religius di tengah kalangan peserta didik, suatu sikap atau perbuatan yang semula dipandang tidak biasa, kini menjadi hal yang biasa. Salah satu contohnya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengalami perkembangan yang pesat dapat menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan pelajar, akibat dari perkembangan ini yaitu banyak situs yang mengandung kekeraan, seksualitas dapat diakses dengan mudah di internet, tayangan televisi saat ini jauh dari kata mendidik dan anak-anak yang berstatus pelajar cenderung mrngikuti gaya budaya barat tanpa memperhatikan budaya itu sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Sadar atau tidak budaya asing dapat melunturkan karakter pelajar Indonesia. Kondisi moral anak-anak di Indonesia pun sangat memprihatinkan, seperti yang sering terlihat semakin maraknya anak-anak mengkonsumsi narkoba, pergaulan bebas, perkelahian, tindak kekerasan seperti yang dilakukan sekarang banyak terjadi yaitu kasus bullying di sekolah.
Pendidikan karakter religius pada sekarang ini dalam kualitas masyarakat mengalami penurunan, seperti terjadinya kekerasan, pornografi, tawuran dan lainnya. Dalam menghadapi perubahan zaman dan kemerosotan moral di kalangan pelajar saat ini, karakter religius sangat perlu untuk dikembangkan pada lembaga pendidikan. Proses pembentukan karakter religius tidak akan terlaksana jika pendidik hanya sebatas memberikan perintah pada peserta didik untuk melaksanakan ajaran agama, akan tetapi seorang pendidik harus mampu memberikan contoh agar dapat dijadikan teladan bagi peserta didik. Dengan cara tersebut, peserta didik lebih mudah mengikuti perilaku yang baik dari gurunya, sehingga proses pembentukan karakter religius akan berjalan lebih efektif. 
Pembentukan karakter religius bagi peserta didik merupakan tanggung jawab semua pihak, baik orang tua maupun guru. Orang tua dan guru memiliki peran yang penting dalam pembentukan karakter peserta didik. Orang tua dan guru harus mampu menjadi inisiator, motivator dan contoh dalam membentuk karakter religius. Di sisi lain, guru juga harus memiliki upaya dan usaha atau metode khusus yang ampuh dalam upaya pembentukan karakter peserta didiknya. 
Dari uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan memfokuskan pada “Pembentukan Karakter Religius Peserta Didik Dengan Menanamkan Nilai-Nilai Religius di SMP Islam Pekalongan”. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan apakah dengan adanya penanaman nilai religius dapat membentuk karakter religius pada peserta didik.

Postingan populer dari blog ini

Outline Skripsi

Membuat Judul Buku dan Outline Buku

Tugas 2: Materi yang Mendukung Aspek Nilai-Nilai Pendidikan Islam